Lebaran di Kampung

Pagi-pagi terdengan suara Takbir,yang membuat suasana semakin terharu di campur bahagia,kami siap siap pergi ke mesjid untuk melaksanakan solat idul fitri.

Setelah selesai melaksanakan Sholat Idul Fitri kami mendengarkan kotbah,kotbahnya sangat sedih yang menceritakan bakti anak ke pada orang tua,disaat itu saya meneteskan air mata ,teringat kepada ibunda tercinta yang telah lama meninggalkan kami semua.
Timbul dalam benak saya alangkah bahagiannya lebaran ini seandainya ibunda tercinta berada bersama kami saat ini.
Apalah daya semua itu sudah menjadi kehendak yang Maha kuasa,kita ini tinggal menjalinya saja.
Sambil bersalam-salaman saya langsung pulang kerumah untuk minta maaf pada ayah tercinta,dirumah hati ini bertambah sedih karena melihat bapak sendiri tidak ada ibu yang menemani,setelah saya mencium tangan Ayah dan meminta maaf airmata ini tidak terbendung keluar sendiri,kami saling bergantian bersalam-salaman.
Kebiasaan di keluarga saya setelah selesai bersalam-salaman kami langsung menuju ruang makan,menyantap makanan yang tersedia,biasanya kalau di hari lebaran yang di hidangkan adalah Rendang dan SUP,alangkah nikmatnya makan pagi itu.
Setelah selesai kami langsung menuju Balian(Pemakaman) berkunjung ke makam ibunda tercinta,disana kami membacakan surat yasin yang kami persembahkan untuk arwah ibunda tercinta dan keluarga kami yang telah duluan mendahului kami.
Dari Pemakaman kami langsung menuju rumah Tua (Kakak Bapak) yang paling tua,untuk silaturrahmi,tradisi di kampung kami semua saudara akan berkumpul dirumah saudara tertua.
Acara sudah selesai kami pulang kerumah.sambil duduk2 di teras rumah kami memesan bermacam macam makanan misalnya,Soto,Pocal,lontong sayur,mie goreng,gado-gado dll.
Masakannya memang sederhana tapi rasanya enak,terobati sudahlah rasa kangen akan makanan dari kampung halaman.

Sore hari kami pergi berkunjung kerumah-rumah saudara yang terdekat,setiap berkunjung di suguhkan makanan dan minuman khas lebaran,sebelum pulang selalu di suruh makan,perut ini sudah tidak menerima tapi mulut ini ingin selalu untuk menyantap makanan yang di sediakan keluarga terutama Gule Bulung gadung,yang di tambah dengan sambal tuk-tuk nya.alangkah nikmatnya makan,karena selama kita di perantauan jarang sekali kita makan makanan seperti ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: