Banjir melanda Madina

Enam desa di Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, atau kira-kira 24 jam perjalanan dari Kota Medan dihantam banjir bandang, Selasa (15/9) sekitar pukul 02.00 WIB dinihari.

Enam desa yang terendam banjir adalah Rantau Panjang, Lubuk Kapondong I, Lubuk Kapondong II, Saleh Baru, Tabuyung, dan Manuncang. Keenam desa itu dihuni sekitar 2.200 kepala keluarga (KK). Satu desa lagi yakni Desa Trans Sikarakara.

Lokasi keenam desa yang berada di daerah pedalaman Mandailing Natal itu kini terisolir dan belum mendapatkan bantuan. Keenam desa itu berada di pegunungan, dekat Taman Nasional Batang Gadis. Jarak lokasi banjir dari Kota Medan menuju ibukota Madina, Panyabungan, selama 15 jam perjalanan. Dari Kota Panyabungan menuju Desa Tabuyung selama 7 jam. Desa Tabuyung merupakan desa terdekat yang memiliki akses jalan yang bisa dilalui kendaraan.

Dari Desa Tabuyung ke lokasi banjir memakan 8 jam jalan kaki. Rute ke lokasi banjir adalah pengunungan dan sungai, tidak ada akses untuk kendaraan kecuali berjalan kaki.

Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal sendiri baru mendapat laporan terjadinya bencana tersebut pada pukul 09.00 WIB. Hal ini karena tak ada akses komunikasi di lokasi bencana. Hingga tadi malam pukul 24.00 WIB, sebanyak 38 mayat sudah ditemukan dan masih masih diidentifikasi. Lokasi juga belum bisa dijangkau Tim SAR karena 2 jembatan melalui jalur darat putus. Sedangkan melalui jalur laut melalui Desa Singkuang, badai masih tinggi.

Saat ini Pemkab Madinah masih berusaha mengirimkan logistik melalui helikopter, itupun masih memantau titik koordinat tempat mendarat. Bupati Madina, Amru Daulay juga belum bisa melintas ke lokasi karena titik pendaratan heli belum bisa diketahui. Sebab, di beberapa desa seperti di Desa Singkuang air setinggi 2 meter. Informasi terakhir hingga besok bantuan heli yang membawa bantuan diperkirakan belum bisa mendarat.

Tim SAR yang meluncur ke lokasi banjir juga terhambat karena jumlah personel. “Tim evakuasi masih kesulitan melakukan pencarian warga yang dinyatakan hilang. Alat berat belum dapat menjangkau lokasi akibat jalur darat terputus total,” ujar Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Sumut, Irjen Pol Badrodin Haiti kepada wartawan, Selasa(15/9).

Badrodin mengatakan, tim SAR telah melakukan pencarian di lokasi bencana. Namun jumlah personel yang melakukan evakuasi relatif terbatas. “Selain itu butuh waktu sedikitnya delapan jam menuju lokasi dari Polres Mandailing Natal menggunakan jalur sungai,” imbuhnya.
Informasi dari Satkorlak Pemprovsu jumlah korban terus bertambah karena masih banyak yang hilang. Pemprovsu kemarin sore juga telah mengirimkan bantuan berupa obat-obatan, makanan ringan, selimut dan keperluan lainnya. “Namun sejauh ini bantuan tersebut belum sampai ke lokasi banjir karena dikirim via darat karena kita tidak bisa menggunakan helikopter akibat cuaca buruk,” kata Gubsu, Syamsul Arifin.
Selain memberikan bantuan materil, Gubsu juga memerintahkan Bupati Madina untuk menggunakan cadangan beras 50 ton yang saat ini berada di gudang bulog Madina. “Kita sudah mencadangkan 50 ton beras di sana untuk bisa digunakan Bupati,” katanya.
Dijelaskan Gubsu, banjir tersebut disebabkan hujan deras yang mengguyur daerah tersebut dalam beberapa hari terakhir ini. Akibatnya, Sungai Batang Gadis yang berada di Aek Batang Gadis meluap.

Syamsul Arifin juga menginstruksikan Bupati Madina agar memaksimalkan seluruh personel Satkorlak yang ada untuk melakukan penyelamatan terhadap korban. Selain itu seluruh Satkorlak bekerjasama dengan dinas terkait, terutama dinas kesehatan, dinas pengairan, dinas sosial.
Pemerintah Pusat juga sudah mengirimkan sejumlah bantuan dan tim untuk menakar kebutuhan bantuan yang diperlukan korban banjir di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.

“Tim dari Departemen Sosial dan BNPB dikirim ke sana dengan membawa persiapan dana bantuan Rp250 juta,” kata Kepala BNPB Syamsul Maarif di Kantor Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Jakarta, Selasa (15/9).

Menurut dia, tim tersebut akan meninjau lokasi bencana, menakar kebutuhan bantuan bagi korban bencana, dan memberikan bantuan jika pemerintah daerah tidak mampu mengatasi masalah itu secara mandiri.

“Tetapi, sampai sekarang kondisi yang dilaporkan masih terkendali, masalah pengungsi juga masih bisa ditangani pemerintah daerah,” katanya.
Secara terpisah, Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Kesehatan Rustam S Pakaya mengatakan, tim kesehatan juga sudah diturunkan untuk membantu penanganan korban bencana di wilayah itu.

“Tim kesehatan sudah menuju ke sana. Tim Pusat Pengendalian Krisis Regional Medan juga menuju lokasi sambil membawa kantung mayat, makanan pendamping ASI, dan obat-obatan,” katanya.
Info By SUMUT POS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: