Tiga Kampung di Pariaman Hilang

Tiga Kampung di Pariaman Hilang, SBY Bergetar
09:14 | Saturday, 3 October 2009
SbyMEMBESUK: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama dan Kristiani Yudhoyono menyemangati seorang korban gempa di tenda darurat di rumah sakit M Djamil Padang, Jumat (2/10).//REUTERS / Istana Kepresidenan

Wajah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tampak sembab. Ia tampak tak bisa menyembunyikan kepedihannya saat mendengar laporan Bupati Padang Pariaman Muslim Kasim yang bergetar. Airmata Presiden tampak tertahan.
Memang, di Kabupaten Padang Pariaman, tiga kampung tertimbun longsor saat gempa menguncang. Akibatnya, ratusan warga diperkirakan tewas tertimbunn
Di Kampung Lubuk Laweh, Kampung Sumaniak, dan Kampung Pilian.

Tiga dusun itu terletak di Jorong Tandikek, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman.
Muslim melaporkan korban-korban di desa di Nagari Tandikek, Kecamatan Patamuan, yang belum dievakuasi.
Menurut Muslim, sebanyak 282 orang tertimbun di desa-desa itu. Di desa Lubuak Laweh ada 180 orang, di Pulau Aie 39 orang, Desa Cumanak 50 orang, dan kaki Gunung Tigo 13 orang.Selain Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman juga mengalami kerusakan parah. Hingga saat ini ada 207 orang tewas. Belasan ribu rumah hancur.

Di tiga kampung di Nagari Tandikek itu kini yang tampak hanya tanah, pohon dan atap rumah warga. Kampung-kampung itu berada di antara dua bukit. Saat gempa terjadi kedua bukit tersebut longsor dan menyeret rumah warga sekira 300 meter.
Longsor juga menimbun rumah beserta warga di kampung tersebut. Menurut warga satu orang korban tewas berjenis kelamin perempuan berhasil dievakuasi, sedangkan suami dan anaknya belum ditemukan. Selain mereka, diperkirakan masih ada ratusan jiwa lainnya tertimbun.

Menurut warga, gempa dan longsor terjadi saat beberapa keluarga sedang melangsungkan pesta pernikahan. “Ada yang masyarakat itu yang sedang mengadakan pesta. Kemudian dalam mengadakan pesta itu terjadi gempa, kemudian tertimbun seluruhnya. Tidak ada satu pun yang selamat katanya,” jelas Indra Soni, tim kesehatan RSAM Bukit Tinggi.

Tim kesehatan Rumah Sakit Ahmad Muchtar Bukit Tinggi yang berhasil mencapai lokasi menyebutkan, proses evakuasi masih terkendala ketiadaan alat berat serta minimnya tenaga ahli evakuasi. Jauhnya jarak dari pusat kota serta luasnya lokasi juga mempersulit upaya evakuasi lewat darat.

Pantauan di tiga kampung itu, tak ada bangunan yang tampak di ketiga kampung itu. Tanah yang berasal dari bukit di belakang dusun menutupi areal tiga kampung.
Evakuasi yang dimulai hanya menggunakan tenaga manusia gabungan dari warga, polisi, dan Taruna Siaga Bencana dengan alat seadanya. Padahal, ketiga kampung yang bersebelahan ini cukup dekat dengan Kota Pariaman. Ketiga kampung bisa dicapai dengan 30 menit perjalanan dengan kendaraan.
Selain di kawasan Gunung Tandikek, diduga masih ada sekitar 300 rumah tertimbun longsor di Gunung Tigo.

Informasi yang dikumpulkan dari para relawan di Kabupaten Padang Pariaman, tanah longsor di kaki Gunung Tigo ini terjadi sesaat setelah gempa dahsyat itu mengguncang. Satu desa terkena longsoran tebing dan bukit. “Diperkirakan ada sekitar 300 rumah yang tertimbun longsoran. Besok kami akan segera menuju lokasi,” ujar salah seorang relawan. Lokasi longsor yang dimaksud adalah di kaki Gunung Tigo Kecamatan Cincin.

Cerita yang beredar rumah-rumah yang berada di kaki Gunung Tigo yang tertimbun longsor ini merupakan rumah tua. Menurut para relawan, lokasi longsor ini sangat sulit dijangkau alat berat. Jalan menuju desa ini hanyalah akses jalan antardesa.
Belum diketahui nasib para pemilik rumah itu. Namun, diperkirakan hanya sebagian kecil saja dari mereka yang selamat. Sebab, ada beberapa orang dari desa itu yang saat itu meninggalkan desa dan dalam perjalanan menuju desa lainnya untuk mengantar durian.

Dalam kesempatan itu, SBY memberi peringatan keras kepada para pejabat terkait penanganan bencana menyusul gempa 7,6 skala richter (SR) di Sumbar. Para pejabat harus mengutamakan kecepatan dan bertindak serius. Pejabat tidak boleh tertawa-tawa saat menangani bencana.

“Ada petugas yang (saat gempa Jabar) ketawa-ketawa saat masuk CNN. Kalau itu dilihat dunia, katanya ada musibah, katanya mengubur jenazah, kok pada ketawa-ketawa,” kata SBY saat berkunjung di Balaikota Pariaman.

SBY meminta semua pihak mengutamakan kecepatan dalam tanggap darurat penanganan bencana. Bukan hanya untuk perusahaan, namun juga para pemimpin, dari tingkat pusat maupun daerah harus bertindak cepat. “Kecepatan harus diutamakan. Saya hitungannya jam. Kalau bisa 1 atau 2 jam jangan tunggu 1 atau 2 hari. Oleh karena itu saya tidak suka pemimpin dalam keadaan begini duduk di belakang meja. Siapapun, bukan hanya bupati atau wali kota, tapi juga para petugas,” tegas SBY.erlebih dulu saat gempa dan pejabat yang menganggap enteng masalah.
Sumber :Sumut Pos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: